Penataan Kawasan TK Dharma Wanita
Desa Mergowati Kec. Kedu dengan pendekatan kenyamanan termal
Qonia sani mafaza
Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik Dan Ilmu Komputer,
Universitas Sains Al-Qur’an Wonosobo
Email : Sanimafaza05@gmail.com
|
ABSTRAK |
|
Masa pra
sekolah merupakan masa-masa untuk bermain dan mulai memasuki taman
kanak-kanak. Waktu bermain merupakan sarana untuk tumbuh dalam lingkungan dan
kesiapannya dalam belajar formal. Kita sebagai orang dewasa sudah seharusnya
mendukung proses dan bertumbuhnya anak-anak Indonesia. Lalu bagaimana jika
tempat mereka bermain dan belajar belum memadai, bisa jadi anak-anak kurang
nyaman dan kurang merasa aman. Di TK dharma wanita Mergowati masih perlu
penyempurnaan bangunan beserta fasilititasnya agar ana-anak dapat belajar dan
bermain dengan nyaman,aman dan riang. Metode penelitian yang di gunakan yaitu
penelitian kuantitatif dengan melakukan observasi langsung. Adapun
permasalahan yang ada yaitu masih susahnya akses jalan dari jalan utama desa
ke gedung sekolah serta bangunan yang masih seadanya serta belum ada pagar
keamanannya. Oleh sebab itu penulis mencoba untuk mencari solusi dari
permasalah tersebut agar tercipta bangunan yang nyaman dan sesuai dengan
kondisi termal lingkungan. Kata kunci : akses jalan,
infrastruktur bangunan, kenyamanan termal. ABSTRACT |
The pre-school period is the time
to play and start entering kindergarten. Playing time is a means to grow in the
environment and its readiness in formal learning. We as adults should support
the process and growth of Indonesian children. Then what if the place they play
and learn is not adequate, it could be that children are less comfortable and
less secure. In kindergarten Dharma Wanita Mergowati still needs improvements
to the building and its facilities so that children can learn and play
comfortably, safely and cheerfully. The research method used is quantitative
research by direct observation. The problem is that it is still difficult to
access roads from the main village road to school buildings and buildings that
are still makeshift and there is no security fence. Therefore the authors try
to find solutions to these problems in order to create a comfortable building
and in accordance with the thermal conditions of the environment.
Keywords : access road, infrastructure building, termal comfort.
1.
Pendahuluan
Salah satu aspek yang seharusnya mendapat
perhatian utama oleh setiap pengelola pendidikan adalah mengenai fasilitas
pendidikan. Sarana pendidikan umumnya mencakup semua fasilitas yang secara
langsung dipergunakan dan menunjang proses pendidikan, seperti: gedung, ruang
beajar atau kelas, meja, kursi dan sebagainya. Sedangkan yang di maksud dengan
fasilitas/prasarana adalah yang secara tidaklangsung menunjang jalannya proses
pendidikan seperti: halaman, kebun atau taman sekolah, maupun jalan menuju ke
sekolah.
Fasilitas
pendidikan pada dasarnya dapat dikelompokkan dalam empat kelompok yaitu tanah,
bangunan, perlengkapan, dan perabot sekolah (site, building, equipment, and
furniture). Agar semua fasilitas tersebut memberikan kontribusi yang berarti
pada jalannya proses pendidikan, hendaknya dikelola dengan baik. Jadi
secara umum sarana dan prasarana adalah alat penunjang keberhasilan suatu
proses upaya yang dilakukan di dalam pelayanan publik, karena apabila kedua hal
ini tidak tersedia maka semua kegiatan yang dilakukan tidak akan dapat mencapai
hasil yang diharapkan sesuai dengan rencana.
Permasalaan dalam penelitian ini :
Mengingat
pentingnya sarana prasarana dalam kegiatan pembelajaran, maka peserta didik,
guru dan sekolah akan terkait secara langsung. Peserta didik akan lebih
terbantu dengan dukungan sarana prasarana pembelajaran. Sedangkan sekolah
berkewajiban sebagai pihak yang paling bertanggung jawab terhadap pengelolaan
seluruh kegiatan yang diselenggarakan. Selain menyediakan, sekolah juga menjaga
dan memelihara sarana prasarana yang telah dimiliki.
Bangunan
dengan kondisi termal yang nyaman juga mendukung proses belajar.Fenomena
ketidaknyamanan bangunan dalam menghadapi kondisi termal atau iklim merupakan
fenomena yang mempunyai pengaruh besar bagi kehidupan manusia karena dampaknya
terhadap keberhasilan aktivitas manusia dalam bangunanIklim berkaitan dengan
kondisi termal (Hermawan dkk, 2018).Jawa Tengah
mempunyai beberapa pegunungan atau gunung baik yang masih aktif maupun yang
tidak. Kondisi termal di masing-masing gunung atau pegunungan tersbut berbeda
sesuai dengan ketinggian yang dimilikinya (hermawan, 2014).
I.
Rumusan
masalahdari uraian latar belakang di atas dapat kita peroleh beberapa rumusan
masalah antara lain :
a.
Belum
ada nya jalan zona selamat sekolah
b.
Sarana
dan prasana yang masih minim
c.
Jalan
utama masih berupa jalan setapak
d.
Bagaimana
menciptakan bangunan dengan kenyamanan termal yang sesuai dengan komdisi
lingkungan sekitar.
II.
Tujuan
adapun tujuan dari penelitian ini antara lain :
a.
Mendapatkan
konsep desain jalan zona selamat sekolah
b.
Mendapatkan
konsep bangunan dengan sarana dan prasarana yang lengkap
c.
Mendapatkan
konsep desain jalan beton menuju ke gedung sekolah
d.
Mendapatkan
konsep bangunan yang sesuai dengan kenyamanan termal.
III.
manfaat
penelitian
a.
terciptanyan
bangunan yang aman dan nyaman sesuai dengan pendekatan kenyamanan termal.
b.
Sebagai
bahan evaluasi oleh pemerintah terhadap bangunan yang sudah ada dan bisa
menjadi acuan untuk lebih baik lagi.
c.
Sebagai
bahan referensi bagi peneliti lain mencakup kawasan pendidikan yang sesuai
dengan kenyamanan termal.
2.
Metode
penelitian
Penelitian ini
menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan pendekatan deskriptif. Peneliti
melakukan observasi langsung dengan mengumpulkan data-data berupa foto
dokumentasi dan vidio mengenai sarana dan prasarana yang ada di sekolahan TK
dharma wanita mergowati
.
sumber : dokumen pribadi sumber : data primer survey peneliti

Gambar 3: foto bangunan sekolah tampak samping Gambar 4 : foto
jalan utama desa
sumber : data primer survey peneliti sumber :
data primer survey peneliti
Di tengah keseriusan pemerintah mengkampanyekan pentingnya pendidikan, namun kurang mendukung adany
a sarana dan prasarana sekolah yang memadai. Termasuk sekolahan TK dharma wanita desa mergowati kec. kedu ini yang masih perlu di adakannya evaluasi pembangunan sekolah yang berada dekat dengan hutan. Perlunya perbaikan akses jalan yang sering di gunakan oleh siswa dan wali murid, meskipun ada jalan memutar yang lain namun, jalan setapak ini sering di gunakan karena di nilai lebih efektif untuk sampai ke sekolah. Tamu dari sekolahan lain juga sering melewati jalan setapak ini karna gedung sekolah yang terlihat dari jalan utama terasa dekat jika melewati jalan setapak. Selain itu, tamu dari sekolah-sekolah lain banyak yang tidak tau kalau ada jalan memutar menuju sekolahan TK dharma wanita karena jalan memutar melewati kampung yang berada di sebelah barat sekolah.
Upaya yang harus dilakukan adalah dengan peningkatan pembangunan infrastuktur jalan dengan memperhatikan kualitas layanan jalan bagi penggunanya.infra struktur juga berpengaruh penting bagi peningkatan kualitas hidup dan kesejahteraan manusia. Pemerintah juga perlu meningkatkan fasilitas pendidikan yang di imbangi dengan peningkatan kualitas dan kuantitas guru, menyediakan sarana dan prasarana yang mendukung proses belajar mengajar.
3.1.2
Permasalahan Sarana Dan Prasarana Pendidikan

gambar 5 : foto gedung sekolahan TK Gambar
6 :foto taman bermain siswa
sumber :data primer
survey peneliti sumber : data primer survey peneliti
Sarana dan
prasarana adalah perlengkapan untuk mendukung penyelenggaraan kegiatan
pendidkan, pengasuhan dan perlindungan. Pengadaan sarana dan prasarana perlu di
sesuaikan dengan jumlah anak, kondisi social budaya dan jenis lainnya. Pada
prinsipnya dalam pengadaan sarana dan prasarana sekolah harus sesuai dengan
tingkat perkembangan anak, aman, nyaman dan memnuhi kriteria menyenangkan bagi
anak.
Di sokalah TK
dharma wanita desa Mergowati masih perlu di perbaiki dan sempurnakan lagi untuk
sarana dan prasarana sekolah, yaitu belum adanya toilet, belum memaksimalkan
luas lahan taman bermain siswa, belum adanya pagar keamanan bagi siswa dan
belum adanya fasilitias pendukung lainnya. Maka dari itu peneliti mencoba untuk
mencari solusi bagi permasalah sarana dan prasana pendidikan di sekolah TK
dharma wanita
.
Gambar 7 :gambar 3D permasalahan site plan kawasan
sumber : dokumen pribadi
3.2
Upaya
Penyelesaian Masalah dan Pembahasan
Gambar 8 : gambar 3D upaya penyelesaian site plan kawasan
sumber : dokumen pribadi
3.2.1
Upaya
Perbaikan Jalan
Makna Zona
Selamat Sekolah (ZoSS) dan Persyaratan ZoSS adalah suatu zona untuk ruas jalan
tertentu pada lingkungan sekolah dengan kecepatan yang berbasis waktu.Melalui
rekayasa lalu lintas maka zona ini dilengkapi dengan bangunan pendukung dan
fasilitas pelengkap yang dapat digunakan mengatur kecepatan kendaraan. Dengan
demikian pada ZoSS diharapkan lalu lintas yang Aman, Nyaman, Mudah dan Ekonomis.
Kawasan lalu lintas yang tertib dan teratur ini dapat terwujud dengan
mengimplementasikan sistem 3B yaitu Beauty, Brain dan Behaviour. Pertama,
Beauty berarti tersedianya prasarana, bangunan pendukung, fasilitas pelengkap
dan sarana dengan kapasitas mencukupi, indah dari sudut pandang estetika,
sebagai syarat fisik dari suatu jaringan lalu lintas yang harus dipenuhi
didalam usaha menciptakan zona yang tertib dan teratur. Kedua, di samping
persyaratan fisik ada juga persyaratan non fisik yaitu Brain berarti kebijakan
yang Tepat dan Cerdas didalam pengelolaan jaringan lalu lintas agar menjadi
wilayah lalu lintas yang tertib dan teratur. Namun, tersedianya prasarana,
fasilitas pelengkap dan sarana yg memadai, serta kebijakan yang cerdas dan
tepat belum dapat dipastikan untuk dapat membuahkan hasil yang diharapkan,
sehingga ada persyaratan yang ketiga adalah Behaviour, diartikan sebagai
prilaku yang santun di dalam berlalu lintas, yaitu prilaku yang taat dan patuh
terhadap hukum, peraturan dan perundang-undangan serta beretika dan berempati
di dalam berlalu lintas.
Gambar 9 : 3D detail jalan zona selamat
sekolah Gambar
10 :3D jalan beton
sumber : dokumen pribadi sumber : dokumen pribadi.
sumber : dokumen pribadi
3.2.2 Upaya Penambahan Sarana Dan Prasarana

Gambar 12 :
3D tampak perspektif sekolahan Gambar 13 :3D lapangan senam
sumber : dokumen pribadi sumber
: dokumen pribadi
Gambar 14 : 3D tembok dan gerbang Gambar 15 :
3D play ground
sumber : dokumen pribadi sumber : dokumen pribadi
Dalam Permendiknas
58 Tahun 2009 tentang Standar PAUD telah disebutkan mengenai prinsip dan
persyaratan prasarana yang wajib dimiliki sebuah lembaga PAUD. Meskipun
demikian, fakta di lapangan menunjukan masih banyak masyarakat yang belum
memahami prasarana yang diperlukan oleh sebuah lembaga PAUD yang sesuai dengan
kebutuhan anak serta belum mengetahui tentang cara pengelolaannya. Berdasarkan
pertimbangan hal tersebut, maka disusunlah Pedoman Prasarana PAUD untuk lebih
melengkapi informasi yang tertuang pada berbagai rujukan di atas. Melalui
pedoman ini, diharapkan dapat memberikan gambaran tentang identifikasi
kebutuhan prasarana PAUD sesuai kategori usia anak dan perkembangannya serta
standar pengelolaan prasarana PAUD yang meliputi penataan, perawatan, dan
rambu-rambu pengelolaan prasarana PAUD.
Penyediaan
prasarana PAUD perlu disesuaikan dengan jumlah anak, kondisi sosial, budaya,
dan jenis layanan PAUD dengan prinsip :
1. Aman 2. Nyaman 3. Memenuhi
kriteria kesehatan bagi anak 4. Sesuai dengan tahap perkembangan anak 5.
Memanfaatkan potensi dan sumber daya yang ada di lingkungan sekitar
3.3.Kenyamanan
Termal Pada Bangunan
Kenyamanan
Termal didefinisikan sebagai rasa nyaman dari seseorang terhadap lingkungannya
karena terciptanya keseimbangan antara pertukaran panas tubuh dan lingkungannya
(pertukaran radiatif, konvektif, pernapasan, konduksi terhadap jenis pakaiannya
dan keringatnya).(Hermawan dkk,2014) Kenyamanan termal sangat
dibutuhkan tubuh agar manusia dapat beraktifitas dengan baik (di rumah, sekolah
ataupun di kantor/tempat bekerja). Szokolay dalam ‘Manual of Tropical Housing
and Building’ menyebutkan kenyamanan tergantung pada variabel iklim
(matahari/radiasinya, suhu udara, kelembaban udara, dan kecepatan angin) dan
beberapa faktor individual/subyektif seperti pakaian, aklimatisasi, usia dan
jenis kelamin, tingkat kegemukan, tingkat kesehatan, jenis makanan dan minuman
yang dikonsumsi, serta warna kulit.
Tabel 1 Pembandingan Faktor
Penentu Suhu Nyama
Sumber Basaria
Talarosha.2005.Jurnal. Menciptakan
kenyamanan thermal dalam bangunan. Universitas Sumatra Utara
|
Szokolay |
Fanger,
Standar Amerika (ANSI/ASHRAE 55-1992), Standar Internasional (ISO 7730:1994) |
Humphreys
dan Nicol |
|
Iklim: •matahari
(besarnya radiasi), • suhu udara, • angin (kecepatan udara), • kelembaban udara luar Faktor
Individu: •
Pakaian •
Aklimatisasi •
Usia dan jenis kelamin •
Tingkat kegemukan •
Tingkat kesehatan •
Jenis makanan dan minuman yang dikonsumsi •
Warna kulit (suku bangsa) |
Iklim: •
matahari (besarnya radiasi), • suhu udara, • angin (kecepatan udara), • kelembaban udara luar ‰
Faktor Individu: •
Aktifitas •
Pakaia |
‰
Iklim: •
matahari (besarnya radiasi), • suhu udara, • angin (kecepatan udara), •
kelembaban udara luar ‰ Faktor
Individu: •
Aktifitas •
Pakaian •
adaptasi individu ‰ Lokasi
geografis |
.
Indonesia
mempunyai iklim tropis dengan karakteristik kelembaban udara yang tinggi (dapat
mencapai angka 80%), suhu udara relatif tinggi (dapat mencapai hingga 35ºC),
serta radiasi matahari yang menyengat serta mengganggu. Yang menjadi persoalan
adalah bagaimana menciptakan kenyamanan termal dalam bangunan dalam kondisi
iklim tropis panas lembab seperti di atas. Pengolahan desain
bangunan untuk
mewujudkan kenyamanan
termal penghuni
disebut dengan kenyamanan termal pasifPenelitian kenyamanan termal perlu
menggabungkan antara kenyamanan termal aktif dan pasif (Hermawan, Prianto,
Setyowati, Sunaryo, 2017)
Gambar 16 :3D perspektif bangunan
sumber : pengolahan data pribadi peneliti
Pengkondisian
lingkungan di dalam bangunan secara
arsitektural dapat dilakukan dengan mempertimbangkan.
a. Orientasi
Terhadap Matahari
Orientasi bangunan terhadap matahari akan menentukan besarnya radiasi matahari
yang diterima bangunan. Bangunan sekolah TK menghadap ke arah barat sehingga
radiasi yang masuk tidak terlalu banyak namun cukup. Suhu udara rata-rata
berada di kisaran 24ºC-30ºC
b. Orientasi
terhadap Angin (Ventilasi silang)
Posisi
bangunan yang melintang terhadap angin primer sangat dibutuhkan untuk
pendinginan suhu udara. Jenis, ukuran, dan posisi lobang jendela pada sisi atas
dan bawah bangunan dapat meningkatkan efek ventilasi silang (pergerakan udara)
di dalam ruang sehingga penggantian udara panas di dalam ruang dan peningkatan
kelembaban udara dapat dihindari.
c. kelembapan
udara
mempengaruhi pelepasan kalor dari tubuh manusia. Kelembapan udara yang tinggi
akan menyebabkan kalor dalam tubuh
manusia sulit dilepaskan sehingga timbul ketidaknyamanan. Keadaan di bangunan
sekolah tidak terlalu lembab karna mendapat cahaya matahari dan bukaan
ventilasi yang cukup.
d. aktivitas
manusia
pada umumnya menghasilkan kalor yang akan dilepaskan ke lingkungan. Kalor ini
berbeda-beda untuk setiap aktifitas yang di lakukan. Aktifitas yang di lakukan
pelaku hanya berupa bermain, senam dan belajar sehingga cukup banyak kalor yang
di keluarkan.
e. Pakaian
kalor yang dilepaskan seseorang ke lingkungan juga di pengaruhi oleh pakaian
yang di kenakan. Ketika pakaian yang di kenakan adalah ppendek dan tipis maka
pelepasan kalor akan banyak terjadi. Kebanyakan dari orang yang ada di
sekolahan menggunakan pakaian sragam yang panjang namun tidak terlalu tebal.
Pengondisian
udara atau penghawaan cukup di lakukan dengan cara alami yaitu dengan bukaan
jendela atau ventilasi yang baik, perancangan plafond yang tinggi, perancangan
elemen pembayang pada jendela, pemilihan material bangunan dan penanaman
vegetasi di sekitar bangunan. Sehingga dapat tercapai kenyamanan termal pada
manusia.sehingga dapat tercapai Fungsi bangunan sebagai wadah beraktivitas
menjadi tidak berfungsi apabila kenyamanan termal tidak tercapai.(Hermawan dkk
2018
3.4.Permasalahan
Ekologi
Ekologi adalah
ilmu yang mempelajari interaksi antara organisme dengan lingkungannya dan yang
lainnya. Berasal dari kata Yunani oikos (habitat) dan logos (ilmu) Ekologi
diartikan sebagai ilmu yang mempelajari baik antara makhluk hidup dengan lingkungannya.
Ekologi
diartikan sebagai ilmu yang Istilah ekologi pertama kali dikemukakan oleh Ernst Haeckel (1834 - 1914). Dalam ekologi, makhluk
hidup dipelajari sebagai kesatuan atau sistem dengan lingkungannya.
Ekologi mempelajari bagaimana
makhluk hidup dapat mempertahankan kehidupannya dengan mengadakan hubungan
antar mahkluk hidup dan dengan benda tak hidup di dalam tempat hidupnya atau
lingkungannya.Dalam memahami ilmu ekologi diperlukan sebuah penelitian terhadap
lingkungan agar tercipta hubungan yang berkelanjutan antara makhluk hidup
dengan lingkungannya (Hermawan dkk 2018).
Permasalahan ekologi di TK Dharma Wanita desa Mergowati yaitu
kawasan yang kurang tertata rapi serta sarana dan prasarana yang masih minim.
Dan infrastruktur yang kurang memadai. Pengadaan sarana dan prasarana perlu di sesuaikan dengan jumlah anak,
kondisi social budaya dan jenis lainnya.
3.5. Ucapan Terimakasih
Puji syukur dipanjatkan ke hadirat Allah
SWT, karena atas rahmat dan hidayah-Nya artikel ini dapat diselasaikan, untuk
memenuhi tugas studio perancangan kawasan VI. Shalawat serta salam yang hanya
disanjungkan kepada Baginda Rasulullah Muhammad SAW. Sebagai tokoh revolusioner
sejati yang mengahancurkan segala macam kedzaliman dan ketidakadilan, imam kaum
musdz’afin, yang beliau merasa ingin membunuh dirinya dengan melihat kebodohan
dan kejahiliahan umat manusia. Sungguh sangat
menjadi kerinduan untuk bisa menjadikan Beliau sebagai inspirasi perjuangan.
Banyak
hambatan yang menimbulkan kesulitan dalam penyelesaian penulisan ini, namun
berkat bantuan dari berbagai pihak akhirnya kesulitan yang timbul dapat
teratasi. Untuk
itu atas segala bentuk bantuannya, disampaikan terima kasih kepada yang
terhormat :
1.
Dr.
Mukhotob Hamzah M.M. Selaku Rektor Universitas Sains Al-Qur’an Jawa Tengah di
Wonosobo.
2.
Muafani,S.T.,
M.T. Selaku Dekan Fakultas Teknik dan Ilmu Komputer Universitas Sains
Al-Qur’an.
3.
Hermawan
S.T, MM., M.T. Selaku pembimbing di mata kuliah studio perancangan kawasan
4.
Ibu
dan bapak tercinta yang tiada hentinya mendoakan kami dan berharap besar
terhadap kesuksesan kami.
5.
Kawan-kawan
kami mahasiswa dan mahasiswi Teknik Arsitektur angkatan 2017 yang sama-sama
berjuang, semoga kedepannya nanti lebih baik.
Semoga amal
kebaikan semua pihak tersebut mendapatkan imbalan yang sepadan dari Allah SWT. Penulis
menyadari bahwa artikel ini masih jauh dari kesempurnaan, semoga dengan adanya artikel
ini dapat bermanfaat bagi perkembangan Ilmu Teknik, khususnya dalam bidang
Teknik Arsitektur dan bagi seluruh pembaca. Tiada gading yang tak retak bahwa
hidup harus tetap termotivasi dan harus diarahkan agar menjadi lebih baik dan
lebih bermakna.
.
4.
Penutup
4.1.Kesimpulan
Prasarana
berarti alat tidak langsung untuk mencapai tujuan dalam pendidikan. misalnya:
lokasi, bangunan sekolah, lapangan olahraga, uang dan lain-lain.Sarana berarti
alat langsung untuk mencapai tujuan pendidikan. misalnya; ruang, buku,
perpustakaan, laboratorium dan lain-lain.Kepala sekolah bertanggung jawab atas
pengadaan sarana dan prasarana pendidikan yang diperlukan, mengingat
administrasi sarana dan prasarana itu sendiri mempunyai peranan yang sangat
penting bagi terlaksananya proses pembelajaran di sekolah serta menunjang
tercapainya tujuan pendidikan.
Dalam mengelola
sarana dan prasarana di sekolah dibutuhkan suatu proses yang ada pada umumnya,
yaitu mulai dari perencanaan, pengorganisasian, penggerakan, pemeliharaan dan
pengawasan.Setiap satuan pendidikan wajib memiliki prasarana yang meliputi
lahan, ruang kelas, ruang pimpinan satuan pendidikan, ruang pendidik, ruang
tata usaha, ruang perpustakaan, ruang kantin, instalasi daya dan jasa, tempat
berolahraga, tempat beribadah, tempat bermain, tempat berkreasi, dan
ruang/tempat lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang
teratur dan berkelanjutan.
Meskipun
penghuni merupakan factor yang berpengaruh terhadap kenyamanan termal, akan
tetapi kondisi bangunan juga mempunyai andil terhadap penciptaan kenyamanan
termal penghuni, sehingga perlu dilihat bagaimana karakteristik bangunan dalam
menciptakan kenyamanan termal tersebut. (Hermawan dkk, 2018)
4.2. Saran
Berdasarkan perencaan yang sudah ada di
harapkan pemerintah desa atau pihak yang berwenang dapat merealisasikannya agar
proses belajar mengajar berjalan lancar dan maksimal dengan fasilitas dan
sarana prasana yang mendukung serta dapat meningkatkan mutu pendidikan untuk
anak usia dini. Dengan kawasan yang lebih teretata rapi dapat membantu
keberlangsungan proses belajar dan harmonisai pada lingkungan bangunan dan
manusia di sekitar.
5.
Daftar pustaka
Basaria
Talarosha.2005.Jurnal. Menciptakan kenyamanan thermal dalam bangunan. Universitas Sumatra Utara.
Efit & faisal. 2019. Jurnal. Tugas stupa VI permasalahan kawasan.
Universitas sains ilmu al-qur’an
Hermawan, 2014, Karakteristik Rumah
Tinggal
Tradisional di Daerah Pegunungan Jawa Tengah, Jurnal PPKM UNSIQ III (2014)
212-219.
Hermawana, Prianto, E.,
Setyowati, E., 2014, Prediksi Kenyamanan Termal Dengan PMV Di SMK 1 Wonosobo, Jurnal
PPKM UNSIQ I (2014) 13-20 ISSN: 2354-869X.
Hermawan, Prianto, E.,
Setyowati, E., 2018,
Studi Lapangan Variabel Iklim Rumah Vernakular Pantai Dan Gunung Dalam Menciptakan Kenyamanan Termal Adaptif, Jurnal
Arsitektur Zonasi, Vol. 1, No. 2, Oktober 2018.
Hermawan, Prianto, E.,
Setyowati, E., 2018,
Analisa Perbandingan Suhu Permukaan Dinding Rumah Vernakular Pantai Dan Gunung,
Arcade Jurnal Arsitektur, Vol. 2, No. 3, November 2018
Hermawan, Prianto, E.,
Setyowati, E., 2018,
Studi Tipologi Rumah Vernakular Pantai
Dan Gunung (Studi Kasus Di Kabupaten Demak Dan Kabupaten Wonosobo), Jurnal
PPKM III (2018) 259 – 266.
https://Paud-anakbermainbelajar.blogspot.com di akses pada 5 april 2020 pukul 20.00 WIB.











Tidak ada komentar:
Posting Komentar