Rabu, 10 Juli 2019

studi malioboro


DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI........................................................................................................... 1
1. BAB I PENDAHULUAN
1.1. LATAR BELAKANG............................................................................... 4
1.2. RUMUSAN MASALAH........................................................................... 5
1.3. TUJUAN PENULISAN............................................................................. 6
2. BAB II PEMBAHASAN
2.1.PENGERTIAN MALIOBORO....................................................................
2.2 SEJARAH JALAN MALIOBORO ............................................................
2.3 LOKASI ..................................................................................................... 8
2.4  FASILITAS YANG TERDAPAT DIKAWASAN MALIOBORO........ 9
          2.4.1 Kursi
          2.4.2 Tempat Sampah
          2.4.3 Tempat minum gratis
          2.4.4 Jalur diefabel
          2.4.5 Toilet dibawah tanah
2.5 BANGUNAN-BANGUNAN CAGAR BUDAYA DI MALIOBORO.10
           2.5.1 Jogja Library Center
           2.5.2 GPIB (Gereja Protestan Indonesia Bagian Barat)
           2.5.3 BNI 46
3. BAB III PENUTUP
3.1. PENUTUP DAN KESIMPULAN........................................................... 10
3.2. DAFTAR PUSTAKA.............................................................................. 11



KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Alloh Tuhan semesta alam.sholawat serta salam tidak lupa kami ucapkan untuk junjungan kita nabi agung Muhammad SAW. Kami bersyukur kepada Alloh SWT yang telah memberikan hidayahnya serta taufiknya kepada kami sehingga dapat menyelesaikan makalah ini sebagai syarat Tugas besar mata kuliah Arsitektur nusantara Kami menyadari makalah yang dibuat ini tidaklah sempurna. Oleh karna itu,apabila ada kritik dan saran yang bersifat membangun terhadap makalah ini ,kami sangan berterima kasih.
Demikianlah makalah ini kami sususn.semoga dapat berguna bagi kita semua.Amin.
                                                                                                  



Wonosobo,10 januari 2019

                                                                                                                     Penulis








 BAB I
PENDAHULUAN
1.1Latar Belakang Masalah
Kawasan Malioboro merupakan destinasi utama mayoritas wisatawan yang datang ke Yogyakarta. Berbagai atraksi wisata dapat ditemui di sepanjang kawasan Malioboro, mulai dari Tugu Pal Putih, angkringan kopi jos,Mall  Malioboro, Pasar Beringharjo, Benteng Vredeburg, dan Monumen Serangan Oemoem 1 Maret. Selain itu, kawasan ini  juga merupakan pusat budaya, yaitu dijajakannya berbagai hasil industri kerajinan, serta  banyaknya komunitas seni yang melakukan berbagai atraksi khas di sepanjang Malioboro.
Sebagai sebuah destinasi unggulan dengan tingkat kunjungan wisata yang tinggi, kawasan ini ikut menyumbang dalam peningkatan PAD Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Selain itu, kawasan ini juga menjanjikan keuntungan ekonomi yang sangat tinggi. Oleh karenanya, berbagai elemen masyarakat tertarik  untuk ikut berpartisipasi sebagai pelaku ekonomi di kawasan Malioboro. Hingga  pada akhirnya Malioboro tidak hanya menjadi pusat budaya, tetapi juga menjadi pusat kegiatan ekonomi di Yogyakarta.
1.2.Rumusan Masalah
Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) merupakan salah satu propinsi yang berkedudukan sebagai sebuah daerah otonomi di Indonesia dengan ibukota propinsinya adalah Kota Yogyakarta. Kota ini memiliki banyak predikat, seperti kota kebudayaan, kota pelajar, dan kota pariwisata. Hal ini sesuai dengan visi Kota Yogyakarta yaitu terwujudnya Kota Yogyakarta sebagai Kota Pendidikan yang berkualitas, pariwisata yang berbudaya, pertumbuhan dan pelayanan jasa yang prima, ramah lingkungan serta masyarakat madani yang dijiwai semangat Mangayu Hayuning Bawana.
Sebutan Yogyakarta sebagai kota pariwisata menggambarkan potensi propinsi ini dalam kacamata kepariwisataan. Berbagai jenis obyek wisata dikembangkan di wilayah ini seperti wisata alam, wisata sejarah, wisata budaya, wisata pendidikan, wisata belanja, bahkan yang terbaru wisata malam. Wisata belanja yang dari dulu dan sampai sekarang ini selalu diminati

1.3 Tujuan
Setiap penulisan sesuatu pasti mempunyai tujuan tertentu, dengan demikian juga penulisan makalah ini penulis mempunyai tujuan :
1.      Meningkatkan pengetahuan penulis mengenai obyek malioboro.
2.      Mengetahui lebih dalam mengenai objek wisata di malioboro secara langsung dari sumbernya.
3.      Mengetahui dan melihat secara langsung objek malioboro bukan hanya membaca dan melihatnya di berbagai media elektronik maupun cetak.
para wisatawan baik domestik maupun mancanegara adalah wisata belanja di kawasan Malioboro. Kawasan Malioboro terbagi menjadi 4 (empat) sub kawasan yaitu; sub kawasan Jl. P. Mangkubumi (dari Tugu sampai persimpangan kereta api), sub Kawasan Jl. Malioboro, sub Kawasan Jl. A. Yani dan sub Kawasan Alun-alun Utara (dari perempatan Kantor Pos sampai Pagelaran Kraton). Didukung dengan adanya Tugu (yang jika ditarik garis lurus dari utara ke selatan adalah titik pembagi yang seimbang antara Gunung Merapi dan Laut Selatan) yang menjadi landmark kota Yogyakarta secara otomatis Jl. P. Mangkubumi merupakan “Pintu Utama” sekaligus “Ruang Penerima” bagi pengunjung untuk masuk Kawasan Malioboro dan Kraton. Hal ini dikarenakan G. Merapi – Tugu – Kraton – Laut Selatan berada dalam satu garis lurus (poros imajiner).
BAB II
PEMBAHASAN
2.1.    PENGERTIAN MALIOBORO
Malioboro adalah sebuah Jalan sepanjang tidak lebih dari 2 Kilo Meter yang membentang mulai dari persimpangan Rel Kereta Api Stasiun Tugu Yogyakarta diujung utara hingga pertigaan pojokan Gedung Agung diujung Selatan.
Malioboro adalah sebuah Jalan legendaris yang menjadi ikon Kota Yogyakarta dengan kehidupan kontras antara siang dan malamnya.
Saat siang hari, ruas Jalan Malioboro dipadati kendaraan para pelancong maupun warga Yogyakarta yang beraktifitas disekitar Jalan Malioboro, sementara dikanan-kiri jalan adalah toko-toko berbagai macam kebutuhan pokok, serta  sepanjang trotoar kaki limanya dijejali  lapak-lapak penjaja souvenir khas Yogyakarta, kemudian diujung selatannya ada pasar Beringharjo, tak ketinggalan sejumlah pusat perbelanjaan dan hotel yang mengguratkan kehidupan perekonomian warga Yogyakarta.
Sebaliknya pada malam hari, Malioboro dipenuhi aroma berbagai sajian kuliner yang menggugah selera, yang terhampar di ratusan tikar Warung lesehan dengan menu khas Gudeg Yogya, Bakmi Jawa, dan berbagai pilihan Ayam/ Burung dara/ Bebek bakar dan goreng. Keriuhan suasana lesehan akan ditimpali oleh alunan sejumlah seniman yang melantunkan musik dan lagu secara nomaden. dalam istilah kuno disebut sebagai “mbarang” atau pengamen.
Description: C:\Users\TOSHIBA\AppData\Local\Microsoft\Windows\INetCache\Content.Word\IMG_20190104_154958.jpg2.2.SEJARAH JALAN MALIOBORO






foto 2.2.1 sejarah jalan malioboro
sumber dari : dokumetasi pribadi
Jalan Malioboro didirikan bertepatan dengan pendirian Kraton Yogyakarta. Dalam bahasa Sansekerta, kata "malioboro" bermakna karangan bunga. Hal itu mungkin ada hubungannya dengan masa lalu ketika Kraton mengadakan acara besar maka Jalan Malioboro akan dipenuhi dengan bunga. Kata malioboro juga berasal dari nama seorang kolonial Inggris yang bernama Marlborough yang pernah tinggal disana pada tahun 1811-1816
Perkembangan pada masa itu didominasi oleh Belanda dalam membangun fasilitas untuk meningkatkan perekonomian dan kekuatan mereka, Seperti pembangunan Stasiun Tugu oleh Staat Spoorweg (1887) di Jalan Malioboro, yang secara fisik berhasil membagi jalan menjadi dua bagian. Sementara itu, jalan Malioboro memiliki peranan penting di era kemerdekaan (pasca-1945), sebagai orang-orang Indonesia berjuang untuk membela kemerdekaan mereka dalam pertempuran yang terjadi utara-selatan sepanjang jalan.Keberadaan Jalan Malioboro tidak terlepas dari konsep kota Yogyakarta yang ditata membujur dengan arah utara - selatan, dengan jalan-jalan yang mengarah ke penjuru mata angin serta berpotongan tegak lurus. Pola itu diperkuat dengan adanya "poros imajiner" yang membentang dari arah utara menuju ke selatan, dengan kraton sebagai titik tengahnya."Poros" tersebut diwujudkan dalam bentuk bangunan, yaitu Tugu (Pal Putih) di utara, ke selatan berupa jalan Margatama (Mangkubumi) dan Margamulya (Malioboro), Kraton Yogyakarta, Jl. DI. Panjaitan, berakhir di panggung Krapyak. Jika titik awal (Tugu) diteruskan ke utara akan sampai ke Gunung Merapi, sedang jika titik akhir (Panggung Krapyak) diteruskan akan sampai ke Samudera Hindia. 
Description: C:\Users\TOSHIBA\AppData\Local\Microsoft\Windows\INetCache\IE\5PBTSK64\IMG-20190111-WA0032[1].jpg




foto 2.2.2 sejarah jalan malioboro
sumber dari : dokumrntasi pribadi
Di era kolonial (1790-1945) pola perkotaan itu terganggu oleh Belanda yang membangun benteng Vredeburg (1790) di ujung selatan jalan Malioboro. Selain membangun benteng belanda juga membangun Societeit Der Vereneging Djogdjakarta (1822), The Dutch Governor's Residence (1830), Javasche Bank dan kantor Pos untuk mempertahankan dominasi mereka di Yogyakarta. Komunitas Belanda di Yogyakarta berkembang pesat sejak masa pemerintahan Sultan Hamengkubuwana VII ( 1877 - 1921).Hal tersebut berkaitan erat dengan tumbuh dan berkembangnya perkebunan tebu, berbagai jenis pabrik, perbankan, asuransi, perhotelan, dan pendidikan. Perkembangan pesat juga terjadi pada masa itu yang disebabkan oleh perdaganagan antara orang Belanda dengan orang Tionghoa. Dan juga disebabkan adanya pembagian tanah di sub-segmen Jalan Malioboro oleh Sultan kepada masyarakat Tionghoa dan kemudian dikenal sebagai Distrik Cina (Kawasan Pecinan).

2.3. LOKASI JALAN MALIOBORO
Lokasi Jalan Malioboro adalah di pusat Kota Yogyakarta. Jalan Malioboro sangat mudah dijangkau karena kawasan ini berada disisi selatan Stasiun Kereta Api Tugu Yogyakarta.
Description: C:\Users\TOSHIBA\Downloads\PETA MALIOBORO.png

Sedangkan jika anda berada di Selatan, maka Jalan Malioboro berada di sisi utara Kraton Yogyakarta.Biasanya para wisatawan yang berada di Yogyakarta menginap di hotel-hotel sekitar Malioboro, sehingga bisa diakses melalui jalan kaki.
foto 2.3.1. lokasi jalan malioboro
sumber dari: gogle maps.com
Lokasi Jalan Malioboro tepatnya berada di Jl. Malioboro, Gedong Tengen, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta.
2.4  FASILITAS YANG TERDAPAT KAWASAN DIMALIOBORO
2.4.1  Kursi
Disediakan ada 106 kursi yang terbuat dari kombinasi kayu jati dan besi cor. Ada dua jenis kursi ini, yakni yang memiliki sandaran dan yang tidak memiliki sandaran. Kursi ini dipasang di sisi timur dan juga di depan Gedung Agung. Selain itu akan ada kursi yang terbuat dari teraso bulat yang bagian atasnya di kepras, jumlahnya 144 kursi.
Description: C:\Users\TOSHIBA\AppData\Local\Microsoft\Windows\INetCache\IE\OFVZ2QUM\IMG_20190104_154958[1].jpgDescription: C:\Users\TOSHIBA\AppData\Local\Microsoft\Windows\INetCache\Content.Word\IMG_20190104_155418.jpgDescription: C:\Users\TOSHIBA\AppData\Local\Microsoft\Windows\INetCache\Content.Word\IMG_20190104_155317.jpgDescription: C:\Users\TOSHIBA\AppData\Local\Microsoft\Windows\INetCache\IE\5PBTSK64\IMG-20190111-WA0031[1].jpgfoto 2.4.1.1 fasilitas yang terdapat di malioboro kursi
sumber dari: dokumentasi pribadi
2.4.2. Tempat sampah
Tersedia tempat sampah dan juga asbak di kawasan Semi Pedestrian ini.
Description: Hasil gambar untuk tempat sampah dimalioboro
foto 2.4.1.1fasilitas yang terdapat di malioborotempat sampah
sumber dari : dokumentasi pribadi
2.4.3. Fasilitas air minum gratis
Description: Gambar terkait
foto 2.4.3.1fasilitas yang terdapat di malioboro fasilitas air minum gratis
sumber dari : dokumentasi pribadi
Pengunjung juga mendapatkan air minum gratis dari fasilitas air minum yang terdapat di dua titik, yakni di depan Gedung Agung dan di belakang halte Trans Jogja yang ada di depan benteng Vredeburg
2.4.4. jalur diefabel
Description: C:\Users\TOSHIBA\AppData\Local\Microsoft\Windows\INetCache\Content.Word\images (3).jpegdisediakan jalur pedestian yang ramah bagi penyandang diesabilitas dimalioboro.






foto 2.4.4.1fasilitas yang terdapat di malioboro jalur diefabel
sumber dari : dokumentasi pribadi
2.4.5 Toilet mewah dibawah tanah
disediakan toilet mewah dibawah tanah pagi para pengunjung malioboro toilets berada didepan gedung bank indonesia dijaln panembakan, senopati , tak jauh dari titik 0 km.
Description: C:\Users\TOSHIBA\AppData\Local\Microsoft\Windows\INetCache\IE\OFVZ2QUM\toilet-mewah-bawah-tanah-di-jogja-ini-kelas-hotel-bintang-5-180222g[1].jpg
foto 2.4.5.1 fasilitas yang terdapat di malioboro toilet mewah dibawah tanah
sumber dari : njogja.coid
2.5. BANGUNAN-BANGUNAN MALIOBORO
Description: C:\Users\TOSHIBA\AppData\Local\Microsoft\Windows\INetCache\Content.Word\IMG_20190104_155434.jpg







foto 2.5.1  bangunan -bangunan dimalioboro
sumber dari: dokumentasi pribadi

Sebagai ikon wisata, Jalan Malioboro tidak hanya menawarkan wisata belanja seperti yang banyak diketahui orang, tapi juga menawarkan wisata arsitektur bangunan lawas yang tidak kalah menarik. Banyak orang tidak mengetahui juga jika beberapa bangunan lawas itu merupakan cagar budaya yang dilindungi oleh pemerintah.
bangunan lawas yang menarik malioboro diantaranya:
Description: Ini bangunan-bangunan tua yang ada di sepanjang Malioboro2.5.1 Jogja Library Center








foto2. 5.1.1 bangunan -bangunan dimalioboro Jogja Library Center
sumber dari : dokumentasi pribadi
yakni Jogja Library Center yang terletak di seberang Hotel Inna Garuda. Dulunya bangunan ini merupakan toko buku dan penerbitan buku-buku pendidikan Belanda.
Terdapat bangunan cagar budaya yang cukup unik yakni bangunan lawas dua lantai yang kini menjadi Indomaret. Dulunya bangunan itu merupakan Juliana Drugstore atau Apotek Juliana.Sayangnya tidak terlalu terlihat bangunannya karena tertutup plang. Kalau toko satunya Rathkamp Drugstore yang kini jadi Kimia Farma itu masih terlihat wujudnya. Arsitekturnya masih kelihatan asli. Dulu itu adalah apotek milik Belanda yang kemudian dinasionalisasi di era Soekarno.
2.5.2. GPIB (Gereja Protestan Indonesia Bagian Barat)
Description: C:\Users\TOSHIBA\AppData\Local\Microsoft\Windows\INetCache\Content.Word\images (1).jpeg







foto2.5.2.1  bangunan -bangunan dimalioboro GPIB (Gereja Protestan Indonesia Bagian Barat)
sumber dari : dokumentasi pribadi

Di ujung jalan Malioboro, ada sebuah gereja yang juga merupakan salah satu bangunan tertua di Malioboro yaitu GPIB (Gereja Protestan Indonesia Bagian Barat) Margomulyo. Gereja ini diresmikan pada 11 Oktober 1857.Dulu gereja ini sempat roboh karena gempa tahun 1867. Tapi kemudian dibangun lagi dan berdiri sampai sekarang. Mungkin gereja itu dulu salah satu bangunan besar di Malioboro
.

2.5.3. BNI 45
Description: https://situsbudaya.id/wp-content/uploads/2017/10/daftar-bank-bni-di-yogyakarta.jpg
foto 2.5.3.1bangunan -bangunan dimalioboro bni 46
sumber dari : dokumentasi pribadi
Bangunan tersebut merupakan hasil rancangan Ir. Frans Johan Louwrens Ghijsels, seorang arsitek Belanda kelahiran Tulungagung, mulai dibangun pada tahun 1921 dan selesai pada tahun 1922. Kantor-kantor NILLMIJ di Hindia Belanda, pada umumnya dibangun dengan cita rasa arsitektur tinggi. Gedung NILLMIJ yang memiliki luas bangunan 1.141,8 m² di atas lahan seluas 1.343,8 m² ini dibangun megah dan kokohGhijsels, arsitek yang dipercaya mendesain kantor NILLMIJ Yogyakarta ini, merancang dengan langgam Art Deco. Gaya khas arsitektur ini ditandai dengan konstruksi pilar-pilar tinggi. Pintu dan jendela yang lebar dan tinggi pada gedung ini merupakan ciri-ciri bangunan Eropa. Dinding dihiasi dengan roster yang berfungsi sebagai sirkulasi udara dan pencahayaan sekaligus mempercantik tampilan arsitektural.


BAB  III
PENUTUP
3.1. KESIMPULAN
Dalam bahasa Sansekerta, kata “malioboro” bermakna karangan bunga. itu mungkin ada hubungannya dengan masa lalu ketika Keraton mengadakan acara besar maka jalan malioboro akan dipenuhi dengan bunga. Kata malioboro juga berasal dari nama seorang kolonial Inggris yang bernama “Marlborough” yang pernah tinggal disana pada tahun 1811-1816 M. pendirian jalan malioboro bertepatan dengan pendirian keraton Yogyakarta (Kediaman Sultan).
Malioboro adalah rangkaian sejarah, kisah, dan kenangan yang saling berkelindan di tiap benak orang yang pernah menyambanginya. Pesona jalan ini tak pernah pudar oleh jaman. Eksotisme Malioboro terus berpendar hingga kini dan menginspirasi banyak orang, serta memaksa mereka untuk terus kembali ke Yogyakarta. Seperti kalimat awal yang ada dalam sajak Melodia karya Umbu Landu Paranggi "Cintalah yang membuat diriku betah sesekali bertahan", kenangan dan kecintaan banyak orang terhadap Malioboro lah yang membuat ruas jalan ini terus bertahan hingga kini.
3.2.SARAN
Banyak sekali obyek wisata diyogyakarta ini ,tapi dari semua yang kita datangi berikan waktu untuk berkunjung dimalioboro,karena dimalioboro memiliki hal yang tidak bisa dilupakan. Banyak pelajaran yang kita dapatkan jika ke malioboro salah satunya adalah sejarah kota yogya itu sendiri.






MAKALAH
STUDEK MALIOBORO
 (YOGYAKARTA)
Dibuat untuk memenuhi sebagai Tugas Besar semester 3 mata kuliah :
ARSITEKTUR NUSANTARA
Description: Logo UNSIQ Final





DISUSUN OLEH :
Riadhotul khasanah           NIM : 2017130036
Ikhsanudin                          NIM : 2017130035
Qoni'ah sani mafaza           NIM : 2017130033
Ahmad nur fais                  NIM : 20171300
M. Kharis nugroho             NIM : 20171300
Tri jumantoko                    NIM : 20171300



DOSEN:
ARDIYAN ARI WIBOWO ,S.T,M.T.

UNIVERSITAS SAINS AL QUR'AN
FASTIKOM ARSITEKTUR
WONOSOBO

Tidak ada komentar: