DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI........................................................................................................... 1
1. BAB I PENDAHULUAN
1.1. LATAR BELAKANG............................................................................... 4
1.2. RUMUSAN MASALAH........................................................................... 5
1.3. TUJUAN PENULISAN............................................................................. 6
2. BAB II PEMBAHASAN
2.1.PENGERTIAN MALIOBORO....................................................................
2.2 SEJARAH JALAN MALIOBORO ............................................................
2.3 LOKASI ..................................................................................................... 8
2.4
FASILITAS YANG TERDAPAT DIKAWASAN MALIOBORO........ 9
2.4.1 Kursi
2.4.2 Tempat Sampah
2.4.3 Tempat minum gratis
2.4.4 Jalur diefabel
2.4.5 Toilet dibawah tanah
2.5
BANGUNAN-BANGUNAN CAGAR BUDAYA DI MALIOBORO.10
2.5.1 Jogja
Library Center
2.5.2 GPIB (Gereja
Protestan Indonesia Bagian Barat)
2.5.3 BNI 46
3. BAB III PENUTUP
3.1. PENUTUP DAN KESIMPULAN........................................................... 10
3.2. DAFTAR PUSTAKA.............................................................................. 11
KATA PENGANTAR
Segala
puji bagi Alloh Tuhan semesta alam.sholawat serta salam tidak lupa kami ucapkan
untuk junjungan kita nabi agung Muhammad SAW. Kami bersyukur kepada Alloh SWT
yang telah memberikan hidayahnya serta taufiknya kepada kami sehingga dapat
menyelesaikan makalah ini sebagai syarat Tugas besar mata kuliah Arsitektur
nusantara Kami menyadari makalah yang dibuat ini tidaklah sempurna. Oleh karna
itu,apabila ada kritik dan saran yang bersifat membangun terhadap makalah ini
,kami sangan berterima kasih.
Demikianlah
makalah ini kami sususn.semoga dapat berguna bagi kita semua.Amin.
Wonosobo,10 januari 2019
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
1.1Latar Belakang Masalah
Kawasan Malioboro merupakan destinasi utama
mayoritas wisatawan yang datang ke Yogyakarta. Berbagai atraksi wisata dapat
ditemui di sepanjang kawasan Malioboro, mulai dari Tugu Pal Putih, angkringan
kopi jos,Mall Malioboro, Pasar
Beringharjo, Benteng Vredeburg, dan Monumen Serangan Oemoem 1 Maret. Selain
itu, kawasan ini juga merupakan pusat
budaya, yaitu dijajakannya berbagai hasil industri kerajinan, serta banyaknya komunitas seni yang melakukan
berbagai atraksi khas di sepanjang Malioboro.
Sebagai sebuah destinasi unggulan dengan
tingkat kunjungan wisata yang tinggi, kawasan ini ikut menyumbang dalam
peningkatan PAD Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Selain itu, kawasan ini
juga menjanjikan keuntungan ekonomi yang sangat tinggi. Oleh karenanya,
berbagai elemen masyarakat tertarik
untuk ikut berpartisipasi sebagai pelaku ekonomi di kawasan Malioboro.
Hingga pada akhirnya Malioboro tidak hanya
menjadi pusat budaya, tetapi juga menjadi pusat kegiatan ekonomi di Yogyakarta.
1.2.Rumusan Masalah
Daerah
Istimewa Yogyakarta (DIY) merupakan salah satu propinsi yang berkedudukan
sebagai sebuah daerah otonomi di Indonesia dengan ibukota propinsinya adalah
Kota Yogyakarta. Kota ini memiliki banyak predikat, seperti kota kebudayaan,
kota pelajar, dan kota pariwisata. Hal ini sesuai dengan visi Kota Yogyakarta
yaitu terwujudnya Kota Yogyakarta sebagai Kota Pendidikan yang berkualitas,
pariwisata yang berbudaya, pertumbuhan dan pelayanan jasa yang prima, ramah
lingkungan serta masyarakat madani yang dijiwai semangat Mangayu Hayuning
Bawana.
Sebutan
Yogyakarta sebagai kota pariwisata menggambarkan potensi propinsi ini dalam
kacamata kepariwisataan. Berbagai jenis obyek wisata dikembangkan di wilayah
ini seperti wisata alam, wisata sejarah, wisata budaya, wisata pendidikan,
wisata belanja, bahkan yang terbaru wisata malam. Wisata belanja yang dari dulu
dan sampai sekarang ini selalu diminati
1.3
Tujuan
Setiap
penulisan sesuatu pasti mempunyai tujuan tertentu, dengan demikian juga
penulisan makalah ini penulis mempunyai tujuan :
1. Meningkatkan
pengetahuan penulis mengenai obyek malioboro.
2. Mengetahui
lebih dalam mengenai objek wisata di malioboro secara langsung dari sumbernya.
3. Mengetahui
dan melihat secara langsung objek malioboro bukan hanya membaca dan melihatnya
di berbagai media elektronik maupun cetak.
para
wisatawan baik domestik maupun mancanegara adalah wisata belanja di kawasan
Malioboro. Kawasan Malioboro terbagi menjadi 4 (empat) sub kawasan yaitu; sub
kawasan Jl. P. Mangkubumi (dari Tugu sampai persimpangan kereta api), sub
Kawasan Jl. Malioboro, sub Kawasan Jl. A. Yani dan sub Kawasan Alun-alun Utara
(dari perempatan Kantor Pos sampai Pagelaran Kraton). Didukung dengan adanya
Tugu (yang jika ditarik garis lurus dari utara ke selatan adalah titik pembagi
yang seimbang antara Gunung Merapi dan Laut Selatan) yang menjadi landmark kota
Yogyakarta secara otomatis Jl. P. Mangkubumi merupakan “Pintu Utama” sekaligus
“Ruang Penerima” bagi pengunjung untuk masuk Kawasan Malioboro dan Kraton. Hal
ini dikarenakan G. Merapi – Tugu – Kraton – Laut Selatan berada dalam satu
garis lurus (poros imajiner).
BAB II
PEMBAHASAN
2.1.
PENGERTIAN MALIOBORO
Malioboro adalah sebuah Jalan sepanjang tidak
lebih dari 2 Kilo Meter yang membentang mulai dari persimpangan Rel Kereta Api
Stasiun Tugu Yogyakarta diujung utara hingga pertigaan pojokan Gedung Agung
diujung Selatan.
Malioboro adalah sebuah Jalan legendaris yang
menjadi ikon Kota Yogyakarta dengan kehidupan kontras antara siang dan
malamnya.
Saat siang hari, ruas Jalan Malioboro
dipadati kendaraan para pelancong maupun warga Yogyakarta yang beraktifitas
disekitar Jalan Malioboro, sementara dikanan-kiri jalan adalah toko-toko
berbagai macam kebutuhan pokok, serta
sepanjang trotoar kaki limanya dijejali
lapak-lapak penjaja souvenir khas Yogyakarta, kemudian diujung
selatannya ada pasar Beringharjo, tak ketinggalan sejumlah pusat perbelanjaan
dan hotel yang mengguratkan kehidupan perekonomian warga Yogyakarta.
Sebaliknya pada malam hari, Malioboro
dipenuhi aroma berbagai sajian kuliner yang menggugah selera, yang terhampar di
ratusan tikar Warung lesehan dengan menu khas Gudeg Yogya, Bakmi Jawa, dan
berbagai pilihan Ayam/ Burung dara/ Bebek bakar dan goreng. Keriuhan suasana
lesehan akan ditimpali oleh alunan sejumlah seniman yang melantunkan musik dan
lagu secara nomaden. dalam istilah kuno disebut sebagai “mbarang” atau
pengamen.
2.2.SEJARAH JALAN MALIOBORO
foto
2.2.1 sejarah jalan malioboro
sumber
dari : dokumetasi pribadi
Jalan Malioboro didirikan bertepatan dengan pendirian
Kraton Yogyakarta. Dalam bahasa Sansekerta, kata "malioboro"
bermakna karangan bunga. Hal itu mungkin ada hubungannya dengan masa lalu
ketika Kraton mengadakan acara besar maka Jalan Malioboro akan dipenuhi dengan
bunga. Kata malioboro juga berasal dari nama seorang kolonial Inggris yang
bernama Marlborough yang pernah tinggal disana pada tahun 1811-1816
Perkembangan pada masa itu didominasi oleh Belanda
dalam membangun fasilitas untuk meningkatkan perekonomian dan kekuatan mereka,
Seperti pembangunan Stasiun Tugu oleh Staat Spoorweg (1887) di Jalan Malioboro,
yang secara fisik berhasil membagi jalan menjadi dua bagian. Sementara itu,
jalan Malioboro memiliki peranan penting di era kemerdekaan (pasca-1945),
sebagai orang-orang Indonesia berjuang untuk membela kemerdekaan mereka dalam
pertempuran yang terjadi utara-selatan sepanjang jalan.Keberadaan Jalan
Malioboro tidak terlepas dari konsep kota Yogyakarta yang ditata membujur
dengan arah utara - selatan, dengan jalan-jalan yang mengarah ke penjuru mata
angin serta berpotongan tegak lurus. Pola itu diperkuat dengan adanya "poros
imajiner" yang membentang dari arah utara menuju ke selatan, dengan kraton
sebagai titik tengahnya."Poros" tersebut diwujudkan dalam bentuk
bangunan, yaitu Tugu (Pal Putih) di utara, ke selatan berupa jalan Margatama
(Mangkubumi) dan Margamulya (Malioboro), Kraton Yogyakarta, Jl. DI. Panjaitan,
berakhir di panggung Krapyak. Jika titik awal (Tugu) diteruskan ke utara akan
sampai ke Gunung Merapi, sedang jika titik akhir (Panggung Krapyak) diteruskan
akan sampai ke Samudera Hindia.
![Description: C:\Users\TOSHIBA\AppData\Local\Microsoft\Windows\INetCache\IE\5PBTSK64\IMG-20190111-WA0032[1].jpg](file:///C:/Users/Acer/AppData/Local/Temp/msohtmlclip1/01/clip_image004.jpg)
foto
2.2.2 sejarah jalan malioboro
sumber
dari : dokumrntasi pribadi
Di era kolonial (1790-1945) pola perkotaan itu
terganggu oleh Belanda yang membangun benteng Vredeburg (1790) di ujung selatan
jalan Malioboro. Selain membangun benteng belanda juga membangun Societeit Der Vereneging Djogdjakarta
(1822), The Dutch Governor's Residence (1830), Javasche Bank dan kantor Pos
untuk mempertahankan dominasi mereka di Yogyakarta. Komunitas Belanda di
Yogyakarta berkembang pesat sejak masa pemerintahan Sultan Hamengkubuwana VII (
1877 - 1921).Hal tersebut berkaitan erat dengan tumbuh dan berkembangnya
perkebunan tebu, berbagai jenis pabrik, perbankan, asuransi, perhotelan, dan
pendidikan. Perkembangan pesat juga terjadi pada masa itu yang disebabkan oleh
perdaganagan antara orang Belanda dengan orang Tionghoa. Dan juga disebabkan
adanya pembagian tanah di sub-segmen Jalan Malioboro oleh Sultan kepada
masyarakat Tionghoa dan kemudian dikenal sebagai Distrik Cina (Kawasan
Pecinan).
2.3. LOKASI JALAN MALIOBORO
Lokasi Jalan Malioboro adalah di pusat Kota
Yogyakarta. Jalan Malioboro sangat mudah dijangkau karena kawasan ini berada
disisi selatan Stasiun Kereta Api Tugu Yogyakarta.
![]() |
Sedangkan jika anda berada di Selatan, maka Jalan Malioboro berada di sisi utara Kraton Yogyakarta.Biasanya para wisatawan yang berada di Yogyakarta menginap di hotel-hotel sekitar Malioboro, sehingga bisa diakses melalui jalan kaki.
foto 2.3.1. lokasi jalan malioboro
sumber dari: gogle maps.com
Lokasi
Jalan Malioboro tepatnya berada di Jl. Malioboro, Gedong Tengen, Kota
Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta.
2.4 FASILITAS YANG TERDAPAT KAWASAN DIMALIOBORO
2.4.1 Kursi
Disediakan ada 106 kursi yang terbuat dari kombinasi kayu jati dan besi
cor. Ada dua jenis kursi ini, yakni yang memiliki sandaran dan yang tidak
memiliki sandaran. Kursi ini dipasang di sisi timur dan juga di depan Gedung
Agung. Selain itu akan ada kursi yang terbuat dari teraso bulat yang bagian
atasnya di kepras, jumlahnya 144 kursi.
![Description: C:\Users\TOSHIBA\AppData\Local\Microsoft\Windows\INetCache\IE\OFVZ2QUM\IMG_20190104_154958[1].jpg](file:///C:/Users/Acer/AppData/Local/Temp/msohtmlclip1/01/clip_image008.jpg)


foto 2.4.1.1 fasilitas yang terdapat
di malioboro kursi
sumber dari: dokumentasi pribadi
2.4.2. Tempat sampah
Tersedia tempat sampah dan juga asbak di kawasan Semi Pedestrian ini.

foto 2.4.1.1fasilitas yang terdapat di malioborotempat
sampah
sumber dari : dokumentasi pribadi
2.4.3. Fasilitas air minum gratis

foto 2.4.3.1fasilitas yang terdapat di malioboro fasilitas
air minum gratis
sumber dari : dokumentasi pribadi
Pengunjung juga mendapatkan air minum gratis dari fasilitas air minum yang
terdapat di dua titik, yakni di depan Gedung Agung dan di belakang halte Trans
Jogja yang ada di depan benteng Vredeburg
2.4.4. jalur diefabel
disediakan jalur pedestian yang
ramah bagi penyandang diesabilitas dimalioboro.
foto 2.4.4.1fasilitas yang terdapat di malioboro jalur diefabel
sumber dari : dokumentasi pribadi
2.4.5
Toilet mewah dibawah tanah
disediakan
toilet mewah dibawah tanah pagi para pengunjung malioboro toilets berada
didepan gedung bank indonesia dijaln panembakan, senopati , tak jauh dari titik
0 km.
![Description: C:\Users\TOSHIBA\AppData\Local\Microsoft\Windows\INetCache\IE\OFVZ2QUM\toilet-mewah-bawah-tanah-di-jogja-ini-kelas-hotel-bintang-5-180222g[1].jpg](file:///C:/Users/Acer/AppData/Local/Temp/msohtmlclip1/01/clip_image022.jpg)
foto 2.4.5.1 fasilitas yang terdapat di malioboro toilet mewah dibawah
tanah
sumber dari : njogja.coid
2.5. BANGUNAN-BANGUNAN MALIOBORO

foto 2.5.1 bangunan -bangunan dimalioboro
sumber dari: dokumentasi
pribadi
Sebagai ikon wisata,
Jalan Malioboro tidak hanya menawarkan wisata belanja seperti yang banyak
diketahui orang, tapi juga menawarkan wisata arsitektur bangunan lawas yang
tidak kalah menarik. Banyak orang tidak mengetahui juga jika beberapa bangunan
lawas itu merupakan cagar budaya yang dilindungi oleh pemerintah.
bangunan lawas yang
menarik malioboro diantaranya:
2.5.1 Jogja Library Center
foto2. 5.1.1 bangunan
-bangunan dimalioboro Jogja Library Center
sumber dari : dokumentasi
pribadi
yakni Jogja Library
Center yang terletak di seberang Hotel Inna Garuda. Dulunya bangunan ini
merupakan toko buku dan penerbitan buku-buku pendidikan Belanda.
Terdapat bangunan
cagar budaya yang cukup unik yakni bangunan lawas dua lantai yang kini menjadi
Indomaret. Dulunya bangunan itu merupakan Juliana Drugstore atau Apotek
Juliana.Sayangnya tidak terlalu terlihat bangunannya karena tertutup plang.
Kalau toko satunya Rathkamp Drugstore yang kini jadi Kimia Farma itu masih
terlihat wujudnya. Arsitekturnya masih kelihatan asli. Dulu itu adalah apotek milik
Belanda yang kemudian dinasionalisasi di era Soekarno.
2.5.2. GPIB
(Gereja Protestan Indonesia Bagian Barat)

foto2.5.2.1 bangunan -bangunan dimalioboro GPIB (Gereja
Protestan Indonesia Bagian Barat)
sumber dari : dokumentasi
pribadi
Di ujung jalan Malioboro, ada sebuah gereja yang juga merupakan salah satu bangunan tertua di Malioboro yaitu GPIB (Gereja Protestan Indonesia Bagian Barat) Margomulyo. Gereja ini diresmikan pada 11 Oktober 1857.Dulu gereja ini sempat roboh karena gempa tahun 1867. Tapi kemudian dibangun lagi dan berdiri sampai sekarang. Mungkin gereja itu dulu salah satu bangunan besar di Malioboro.
2.5.3. BNI 45

foto 2.5.3.1bangunan
-bangunan dimalioboro
bni 46
sumber
dari : dokumentasi pribadi
Bangunan tersebut merupakan
hasil rancangan Ir. Frans Johan Louwrens Ghijsels,
seorang arsitek Belanda kelahiran Tulungagung, mulai dibangun pada tahun
1921 dan selesai
pada tahun 1922. Kantor-kantor NILLMIJ di Hindia Belanda,
pada umumnya dibangun dengan cita rasa arsitektur tinggi. Gedung NILLMIJ
yang memiliki luas bangunan 1.141,8 m² di atas lahan seluas 1.343,8 m²
ini dibangun megah dan kokohGhijsels, arsitek yang dipercaya mendesain
kantor NILLMIJ Yogyakarta ini, merancang dengan langgam Art Deco.
Gaya khas arsitektur ini ditandai dengan konstruksi pilar-pilar tinggi. Pintu
dan jendela yang lebar dan tinggi pada gedung ini merupakan ciri-ciri bangunan
Eropa. Dinding dihiasi dengan roster yang berfungsi sebagai sirkulasi udara dan
pencahayaan sekaligus mempercantik tampilan arsitektural.
BAB
III
PENUTUP
3.1. KESIMPULAN
Dalam bahasa Sansekerta, kata “malioboro”
bermakna karangan bunga. itu mungkin ada hubungannya dengan masa lalu ketika
Keraton mengadakan acara besar maka jalan malioboro akan dipenuhi dengan bunga.
Kata malioboro juga berasal dari nama seorang kolonial Inggris yang bernama
“Marlborough” yang pernah tinggal disana pada tahun 1811-1816 M. pendirian
jalan malioboro bertepatan dengan pendirian keraton Yogyakarta (Kediaman
Sultan).
Malioboro adalah rangkaian sejarah, kisah,
dan kenangan yang saling berkelindan di tiap benak orang yang pernah
menyambanginya. Pesona jalan ini tak pernah pudar oleh jaman. Eksotisme
Malioboro terus berpendar hingga kini dan menginspirasi banyak orang, serta
memaksa mereka untuk terus kembali ke Yogyakarta. Seperti kalimat awal yang ada
dalam sajak Melodia karya Umbu Landu Paranggi "Cintalah yang membuat
diriku betah sesekali bertahan", kenangan dan kecintaan banyak orang
terhadap Malioboro lah yang membuat ruas jalan ini terus bertahan hingga kini.
3.2.SARAN
Banyak sekali obyek wisata diyogyakarta ini
,tapi dari semua yang kita datangi berikan waktu untuk berkunjung
dimalioboro,karena dimalioboro memiliki hal yang tidak bisa dilupakan. Banyak
pelajaran yang kita dapatkan jika ke malioboro salah satunya adalah sejarah
kota yogya itu sendiri.
MAKALAH
STUDEK
MALIOBORO
(YOGYAKARTA)
Dibuat untuk memenuhi sebagai Tugas Besar semester 3
mata kuliah :
ARSITEKTUR
NUSANTARA
![]() |
DISUSUN
OLEH :
Riadhotul
khasanah NIM : 2017130036
Ikhsanudin NIM : 2017130035
Qoni'ah
sani mafaza NIM : 2017130033
Ahmad
nur fais NIM : 20171300
M.
Kharis nugroho NIM : 20171300
Tri
jumantoko NIM :
20171300
DOSEN:
ARDIYAN ARI WIBOWO ,S.T,M.T.
UNIVERSITAS
SAINS AL QUR'AN
FASTIKOM
ARSITEKTUR
WONOSOBO

